manifestasi patah hati

hi, maaf jadi disini ngobrolnya.

makasih ya, udah ijinin aku jadi pemeran pembantu dalam operamu, walau sementara.

seperti biasanya, saat emosi mengambil alih, logika susah berfungsi
beberapa hari kemarin setelah putusan akhir hubungan kita telah ditentukan, aku sudah di ambang kewarasan aku.

belajar dari pengalaman, coping mechanism untuk meredakan itu semua untukku ya bicara, apapun yang kumau tanpa pertimbangan lagi

aku harus keluarin semua sisi ingin aku, sampai tuntas. sampai di tahap realita dan situasi memaksa dan berkata, "cukup".

saat kamu bilang "tapi dulu ngomong kamu gak seabsurd ini", itu aslinya aku.
rasional, simpati dan toleransi aku kesampingkan demi diriku.
aku lepasin apa yang selama ini aku simpan.

aku izinkan diri aku gila, untuk saat ini.
dibalik kegilaan itu, Puji Tuhan aku belajar lebih banyak lagi persoalan syukur.
aku mensyukuri matahari masih muncul dari timur, aku mensyukuri bahwa masih banyak hal yang belum aku tahu sepenuhnya, aku mensyukuri kebetulan pertemuan kita.

aku ladenin impulsif aku, aku ladenin jiwa aku yang mungkin selama ini tertahan dengan sikap rasional aku untuk selalu tidak menunjukkan siapa aku sebenarnya. aku izinkan diriku menderita.

sebab kesadaran muncul dari penderitaan.

kematian adalah akhir dari persepsi, merelakan diriku untuk dikontrol oleh emosi, aktivitas mental, dan memaksa raga untuk berbuat diluar batasannya.

tbh, i've been dying since day one. tapi kehadiran kamu jadi alasan tambahan untuk tidak menyelesaikan waktu aku di bumi dan untuk selalu memikirkan konsekuensi realitas dari tiap kebebasanku dalam berbuat.

jujur, aku rindu bisa kembali punya makna dibalik pribadi nihilisku.
iya memang kau beri aku sakit, tapi ternyata kamu juga sehatnya aku.
kamu mau dengar aku, mau mengerti posisi aku.

25 itu ganjil, seperempat abad isinya hanya toleransi dan konsekuensi.

aku terdiri dari jiwa dan ragaku:

dari raga untuk jiwa: "kapan pulang? gue cape ngeladenin harapan elu"
jiwa menjawab: "dikit lagi sumpah, bisa ini percaya dah"

sebagai yang diatur, raga berpasrah sampai akhirnya istirahat hanya dapat terjadi karena keadaan yang memaksa (sakit)

deep-rest
depressed

perihal skenario tentang kita, tentu aku masih ingin benar denganmu. kukeluarkan semua keinginanku beberapa hari ini. kamu gak ngerusak aku, aku sendiri yang mengijinkan diriku untuk rusak. maaf jika itu hanya menambah beban hidupmu yang sebenarnya sudah lebih kompleks dari perumahan.

saat ini, semua kartu ada ditanganmu. 
jika sekiranya berubah pikiran, aku masih ada di tempat biasa.

jangan benci dirimu, sakit. kamu punya pemikiran itupun karena hadirnya diriku.
kamu pantas hadir di bumi ini, dan kamu lebih dari pantas untuk dikasihi.

kebetulan adalah takdir yang menyamar.

sesungguhnya sudah sedari lama aku menganggap hidup itu komedi. 
dengan pengalaman menjadi tak waras, aku sekarang lebih sering menertawakan tragedi. menertawakan dunia yang absurd ini, menjadi balerina. 

kupercaya Tuhan punya rencana yang lebih baik untuk kita berdua. dengan selalu memaksa kamu, aku akan terus sakit. jika itupun terjadi, aku tak mau dicintai karena rasa kasihan.

"Kasihan hanya perasaan orang berkemauan baik yang tidak mau atau mampu berbuat. Kasihan hanya satu kemewahan, atau satu kelemahan. Yang terpuji memang dia yang mampu dan mau melakukan kemauan baiknya." - Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia

ada baiknya kita rayakan kenangan kita. dia lahir setelah aku dan kamu menjadi "kita", dan akan terus mengikuti dibelakang kita selama hidup kita berlangsung. sebagai pengingat, bahwa kita pernah sedekat nadi dan pernah saling raya - merayakan.

kenangan mencintai kita yang selalu saja berjalan di depannya. ia tidak berharap kita untuk selalu menengok ke arahnya. 

Katanya, nanti kita lupa melihat apa yang ada di depan.

Namun, ia juga tidak mau kalau kita sama sekali melupakannya.
Dari mana kita belajar jika tidak mau lagi melihatnya walau sejenak?

tentu ada harapanku untuk kita menjadi "kita" lagi, tanpa paksaan, dan dalam kewajaran

namun cepat atau lambat, setiap orang akan menyadari bahwa dalam hidup ada banyak sekali persoalan, dan karena persoalan - persoalan itu tidak dididik secara memadai, mereka takkan pernah paham kemuliaan seorang pengalah.

aku rindu sendu sepi ini.
we are all broken. that's how the light gets in.

sejatinya, manusia lebih memilih untuk dimengerti daripada dicintai,
bahkan oleh lawannya sendiri.

situasi akar dari toleransi

sisanya biar Chairil yang sampaikan (dengan sedikit saduran). 

kamu akan tetap menjadi panasea-ku, mercusuar-ku yang takkan padam. 

auf wiedersehen, mut.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri.

Bukan maksudku mau berbagi nasib,
nasib adalah kesunyian masing - masing 
Kupilih kau dari yang banyak, tapi
sebentar kita sudah dalam sepi lagi terjaring.
Aku pernah ingin benar padamu,
Di malam raya, menjadi kanak - kanak kembali,

Kita berpeluk ciuman tidak jemu,
Rasa tak sanggup kau kulepaskan.
Jangan satukan hidupmu dengan hidupku,
Aku memang tidak bisa lama bersama
Ini juga kutulis di kapal, di laut tidak bernama!

Segala menanti. Menanti / nanti.
Sepi.
Ini sepi terus ada. Menanti. Menanti.

Aku masih tetap sendiri
Kalau kau mau kembali
Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.

aku sekarang orangnya bisa tahan,
sudah berapa waktu bukan kanak lagi,
tapi dulu memang ada suatu bahan,
yang bukan dasar perhitungan kini.

Lalu kita sama termangu
Saling bertanya: apakah ini?
Cinta? Kita berdua tak mengerti

Ah! Hatimu yang tak mau memberi,
mampus aku di koyak - koyak sepi!

Sekali berarti
Sudah itu mati.

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau 

Tak perlu sedu sedan itu!

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

hidup hanya menunda kekalahan,
tambah terasing dari cinta sekolah rendah,
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan,
sebelum pada akhirnya kita menyerah.

aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

di Karet, di Karet (daerahku y.a.d.) sampai juga deru dingin

tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

Hidup kan banyakan jatuh ke tanah?

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satan Church / Gereja Setan di Jakarta

Film "Stay Alive"