Monolog Dua Arah

 Jadi begini, dulu masa SMA silam, saya pernah berhubungan dengan seorang perempuan. Dimulai dari awal SMA, saya hanya "iseng" mendekati dia. Genap 1 minggu saya mengajaknya untuk berkomitmen menjadi sepasang kekasih (mungkin saat itu aku saja tak tahu apa definisi "komitmen"). Seperti sebuah pemaksaan, saya menembaknya diatas motor berjalan, dalam perjalanan mengantar dia ke rumahnya, dan dia menolak. Saya tak memberhentikan motor saya sebelum dia memberikan alasan jelas mengapa dia menolak. Dia hanya berkata "kita baru kenal". Dan saya beranggapan bahwa itu alasan yang tidak logis (atau logika saya hanya dibutakan dengan ambisi tak mau gagal saya?) Akhirnya dia berkata "beri aku waktu berpikir", maka saya berikan.


27 Oktober 2015, dia menerima saya sebagai kekasihnya.

Jujur, dahulu saya sederhana soal mencintai, tak banyak tuntutan. Karena pada masa itu saya bosan menjadi korban. Saya selalu menjadi korban. Maka saya terbiasa menjadi korban, jalani sajalah, tidak usah diperberat. Toh umur masih panjang, lakukan saja dahulu, sebelum kesempatan itu hilang. Bila gagal bisa jadi pengalaman.

Maka semua berjalan, saya pribadi yang frontal, yang akan melakukan apa yang muncul pertama di dalam pikiran saya. Saya saat itu sedang mengikuti sebuah bisnis yang lebih mirip pemerahan sapi, pengarahan pemikiran. Namun itu tidak jelek, juga tidak bagus. Saya tetap bisa mendapatkan pelajaran positif dari itu, mengubah cara pandang hidup saya. Dan saya tipe orang yang ingin berbagi setiap kesenangan saya. Jika saya bahagia akan suatu hal, saya ingin orang yang saya pedulikan merasakannya jua.

Namun cara saya salah. Saya pemaksa, laki - laki terlalu impatient. We didn't think when we do something. We just do. Dan, itu menekan dia.

Pernah satu momen dia meminta break. Saya tak banyak berkomentar, lagipula hubungan kita masih sangat muda, tak terlalu banyak ikatan terjadi. Yasudah, ini gagal.

Namun dia berkabar bahwa dia tak bisa. Saya tak bisa juga melihat dia harus berkata begitu. Akhirnya belum tercipta. Kita berlanjut.

Dulu sebelum dengannya, saya tak pernah galau berlebihan soal cinta. Saya suka, saya kejar, saya tembak, kita berpasangan. Sesimpel itu formula saya dan tak pernah gagal.

Namun saya tak pernah di kejar. Sampai dia bercerita soal pengetahuan dia akan saya, itu pertama kalinya saya merasakan perasaan bangga namun aneh, sesuatu yang baru. Rasa diinginkan. Saya begitu norak saat itu.

Mulai dari situ saya benar - benar menyadari posisi saya. Dia membutuhkan saya. Jika saya pergi, dia mau jadi apa? Maka setiap saya salah, dia yang salah. Saya melakukan kesalahan itu sebenarnya sebuah kesengajaan karena kamu yang terlebih dahulu salah. Bajingan.

Saya menuntut, begitu banyak. Dan saya memang sedang berkembang saat itu, saya menemukan jati diri saya, saya tahu apa yang saya mau lakukan, dan saya melakukannya dengan baik. Saya merasa banyak mendapat respon dari wanita lain, yang belum pernah saya alami sebelumnya. Persetan dengan pasangan, disini saya diinginkan. Dan saya selalu membandingkan, apakah dia lebih baik dari pasangan saya? Gilanya, hampir semua saya bilang "ya, perempuan ini lebih baik dari dia"

Hubungan ini sesuatu yang sangat berharga untuk dia, namun bagi saya ini bisa di ganti. Mudah kok berhubungan itu. Saya belum mengerti apa itu hubungan yang benar - benar menghargai percintaan.

Kata berpisah terlalu mudah untuk saya ucapkan, dengan alasan "dia tak bisa mendengarkan saya" "dia tak coba mengerti saya" berulang - ulang. Kalau mau dilihat mendetail, dia berubah, walau sedikit demi sedikit, ada perubahan. Namun sekali lagi saya dibutakan.

Sudah dapat gambaran seberapa bajingannya saya? Ya, saya juga membenci diri saya.

Maka dari itu saya takut memilikimu. Saya takut menyakitimu. Saya hanya ingin bahagia, namun dunia memang tercipta tidak adil. Namun semua tak penting jika bisa melihatmu tersenyum.

Saya mau coba berubah dengan bantuanmu...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Satan Church / Gereja Setan di Jakarta

Film "Stay Alive"

manifestasi patah hati